Sabtu, 12 Maret 2016



Laporan Perjalanan PLS ke Sritex dan Museum Sangiran
(Ayu Nabiha Septiyani/X MIPA 4/07)



                Tanggal 16 Februari 2016 SMAN 2 Magelang mengadakan Pelajaran Luar Sekolah atau PLS. Kegiatan ini wajib diikuti oleh seluruh siswa SMAN 2 Magelang kelas X. Tempat-tempat yang dituju adalah PT. Sritex, Museum Sangiran, dan Pusat Grosir Solo.
            Saya berangkat dari rumah pukul 06.05 agar tidak terlambat sampai di sekolah karena tepat pukul 07.00 sudah berangkat menuju ke Solo. Tepat pukul 06.30 saya sampai di sekolah. Disana sudah banyak teman-teman membawa tas dan siap berangkat PLS. Setelah itu kami disuruh menunggu bus di pinggir jalan raya sekolah. Tak lama kemudian ada enam bus berukuran besar berhenti di seberang kami menunggu bus. Kami segera masuk ke dalam bus yang sudah ditentukan. Saya masuk ke dalam bus E sesuai kelompok. Sekitar pukul 07.30 bus berangkat menuju PT. Sritex. Di dalam bus kami dipandu oleh seorang pemandu bus. Saat diperjalanan pemandu bus menjelaskan tentang PT. Sritex. Dimana PT. Sritex itu adalah kepanjangan dari PT. Sri Rejeki Isman Textil. Sritex awalnya adalah sebuah toko yang berada di pasar klewer Solo. Produksi Sritex sangat bagus sehingga menjadi sebuah pabrik tekstil terbesar di Asia Tenggara. Sritex memproduksi berbagai macam kain yang dapat diolah menjadi berbagai macam pakaian.

Setelah menempuh perjalanan dua jam lebih kami sampai di PT. Sritex. Awalnya kami akan diajak di aula Sritex untuk menonton film tentang Sritex tetapi karena ada tamu VIP kami langsung disuruh masuk ke ruang produksi. Di dalam ruangan itu banyak para pekerja yang menjahit erbagai macam pakaian seperti kemeja, baju tidur, baju pesta, baju tentara, dan masih banyak macam yang lainnya. Di dalam ruang produksi itu kami hanya memutari sekali saja. Setelah itu kami langsung di suruh keluar.

            Kami segera berpindah ke toko yang dimiliki Sritex. Disana dijual berbai macam pakaian dan kain yang telah di produksi oleh Sritex. Sangat menarik melihat produksinya. Saya sangat tertarik dengan hasil produksi Sritex. Banyak teman saya yang membeli baju di toko tersebut. Tetapi saya memilih untuk melihat saja. Pamandu mengingatkan agar pukul 12.00 segera kembali ke dalam bus masing-masing. Mengingat waktu yang masih lama, kami menghabiskan waktu dengan berfoto-foto di dalam toko.

 
            Tepat pukul 12.00 kami berangkat ke Museum Sangiran. Di dalam perjalanan menuju ke Sangiran kami diberi makan berupa nasi box. Di perjalanan pemandu bus juga memberikan penjelasan tentang Museum Sangiran. Beberapa teman yang berada dalam bus E sudah ada yang pernah berkunjung ke Sangiran. Tepat pukul 14.00 kami sampai di Museum sangiran. Saya langsung berkumpul dengan kelompok saya. Kami diberi arahan untuk masuk ke Museum Sangiran. Yang harus dilakukan adalah menjaga nama baik SMAN 2 Magelang. hal yang tentu saja harus dilakukan setiap siswa.

            Di dalam museum terbagi menjadi 3 ruang pamer. Di dalam ruang pamer 1 berisi kekayaan Sangiran berupa fosil-fosil hewan purba seperti gajah dan buaya. Di dalam ruang pamer 1 juga terdapat fosil tengkorak manusia purba Homo Erectus yang dilengkapi dengan kapan, dimana, siapa yang menemukannya dan keterangan bagian-bagiannya.








            Di ruang pamer 2 berisi langkah-langkah kemanusiaan, berupa penjelasan tentang jaman pra-kambria, bagaimana proses menjadi fosil , beberapa tokoh yang mendukung Teori Evolusi seperti Thomas Huxley (1825-1895); Ernst Haeckle (1834-1919); dan Gregor J. Mendel (1822-1884), persebaran manusia purba, dan proses pencarian fosil manusia purba.




            Sementara di ruang pamer 3 berisi keemasan Homo Erectus sekitar 500.000 tahun yang lalu. Masa ini berupa sudah mulai di kenalnya bercocok tanam, mencari makan dengan berburu hewan menggunakan senjata sederhana. Di ruang pamer 3 terdapat replika manusia purba 500.000 tahun yang lalu yang terbuat dari lilin.

            Setelah selesai memutari Museum Sangiran, kami segera berganti pakaian bebas. Kami segera meninggalkan Museum dan pergi ke Pusat Grosir Solo. Waktu sudah menunjukkan hampir pukul lima sore. PGS sudah tutup sehingga kami dialihkan ke Solo Square. Sekitar pukul setengah enam sore kami masuk Solo Square. Disana saya membeli kerudung dan cardigan saja karena Solo Square tidak jauh beda dengan mall yang ada di Magelang. saya berjalan-jalan bersama teman-teman menyusuri Solo Square. Setelah hampir pukul 19.00 kami segera masuk ke dalam bus masing-masing karena sudah dipandu untuk segera pulang.
            Sebelum itu pulang, kami mampur ke salah satu restoran untuk makan malam. Disana kami sudah disuguhi dengan makanan yang khusus SMAN 2 Magelang. setelah selesai makan, kami masuk ke dalam bus dan menikmati perjalanan pulang. Banyak teman saya yang tidur tetapi saya tidak tidur. Pukul 22.55 menit bus kami tiba di sekolah. saya segera mencari Ayah saya untuk segera pulang. Saya merasa sangat senang bisa mengikuti PLS ini. Karena saya mendapatkan berbagai macam pengalaman yang tidak bisa saya lupakan.
Maryamku Sayang
(Ayu Nabiha Septiyani/ X-MIPA 4/07)

“Kak ayo banguunnnnnnnnnn,” lagi-lagi adikku membangunkanku dengan suara cemprengnya. Seperti biasa aku memang paling malas untuk  bangun tidur.
“Kakak udah jam lima. Ayo bangun. Kakak kan belum salat Subuh, nanti dimarahi Bunda kakkkkk,” suara cemprengnya kembali mengagetkanku. Aku segera bangun dari tidurku dan mengambil air wudhu. Segera kutunaikan salat sebelum aku dimarahi oleh Bunda.
Kembali kurebahkan badanku ke kasur dengan selimut tebalku. Hari ini tak seperti biasanya. Udara sangat dingin. Membuat aku malas untuk beranjak dari tempat tidurku.
“Kakkkkkkk ayo mandiiiiii. Kalau enggak adik duluan nih mandinya?” teriak si cepreng membuat kupingku sakit.
“Adik dulu aja deh. Kakak masih malas bangun,” jawabku sambil kututup kupingku mengantisipasi teriakan cempreng itu lagi.
“Dasar pemalas! Bundaaa kakak malas-malasan nih,” kembali adikku mengadu kepada Bunda. Kubiarkan saja aduannya. Tak kujawab sepatah katapun.
Aku memang mempunyai seorang adik bernama Maryam. Dia adalah satu-satunya adik yang kupunya. Kami hanya dua bersaudara. Aku sangat menyayangi Maryam, tetapi ulahnya terkadang membuatku kesal. Maryam memang sudah beranjak dewasa. Baru saja Maryam masuk ke salah satu SMA favorit di kotaku. Kami hanya selisih usia satu tahun, tetapi ulahnya masih seperti anak berumur dua tahun sedang  meminta susu. Maryam sangat manja terutama padaku. Ulah manjanya itulah yang membuatku sangat menyayanginya. Rengekan Maryam tiap saat yang membuatku rindu saat aku jauh darinya. Aku memang tak pernah bisa menampakkan rasa sayangku pada Maryam. Aku hanya selalu mencoba untuk menjaganya.
“Kakakkkkkkkkk Maryam udah selesai mandi. Aduhhhh kakak mah kebiasaannnn. Tuh kan tidur. Kakakkkkkkk cepat mandi nanti telat sekolahnyaaa,” kembali Maryam membangunkanku. Rasanya aku baru saja memakai selimut tetapi ternyata aku ketiduran.
“Iyaaa. Ini juga mau mandi. Kakak kan kalau mandi cepat ga kaya kamu sampai 5 jam aja betah,” kini kubalas ocehannya dengan sedikit candaan yang biasa kami lakukan tiap hari.
“Ihhhh kakak mah gatau kalau perempuan tuh emang kaya gitu. Sukanya ngejek mulu,” teriak Maryam dari kamarnya. Aku tahu saat ini pasti dia sedang manyun 5 cm karna ejekanku. Segera kulanjutkan mandi, sarapan, dan bergegas sekolah. Maryam telah berangkat lebih dulu dariku. Dia memang belum mempunyai SIM (Surat Izin Mengemudi) jika berangkat terlalu siang, takutnya terkena tilang oleh polisi yang biasanya berkeliaran di jalan raya.
“Bunda kakak berangkat dulu ya. Assalamualaikum,” kujabat dan kucium punggung tangan Bunda. Hal itu memang sudah menjadi kebiasaan bagi aku dan adikku setiap berangkat sekolah.
“Ya nak. Waalaikumsalam. Hati-hati dijalan. Jangan kebut-kebutan ya. Belajar yang serius udah mau jadi anak kelas 12 lho,” pesan Bunda sambil mencium keningku. Ya setiap pagi saat aku akan berangkat sekolah selalu ada kecupan dan pesan dari Bunda. Hal itu membuat aku selalu semangat pergi ke sekolah. Tak ada alasan lain jika aku sedang malas sekolah selain kecupan dan pesan dari Bunda yang membuatku semangat pergi ke sekolah.
“Iya Bundaa. Insyaallah. Bunda nanti juga hati-hati ya,” jawabku dan segera meninggalkan Bunda di dapur dan segera menuju garasi mengambil helmku.
“Yah, kakak berangkat dulu ya Assalamualaikum,” kujabat dan kucium punggung tangan Ayah yang sudah menungguku di garasi. Setiap pagi memang Ayahku selalu mengeluarkan motor dari garasi dan mengecek setiap motor yang aku, Bunda, Ayah, dan Maryam pakai.
“Ya kak Waalaikumsalam. Hati-hati ya. Eh iya nanti cepat pulang ya kak, gausah main dulu,” kata Ayahku sambil melambaikan tangannya.
“Siap komandan,” segera aku berlalu dan menuju sekolahku. Tepat pukul tujuh kurang sepuluh menit aku sampai di sekolahku. Segera aku menuju kelas dan bergegas menyiapkan buku dan tugas rumah pelajaran pertama ini.
**
Bel pulang sekolah berdering. Segera ku masukkan semua buku-bukuku ke dalam tas dan beranjak untuk berdoa.
“Ehh Qido, kita main dulu yuk. Bentarrrrr aja. Aku mau nunjukin view yang bagus buat foto. Biar keliatan hits gitu,” ajak Bimo salah satu teman kelasku.
“Duhhh sorry nihhh, lain waktu aja yaaa. Aku udah janji sama Ayah mau pulang cepat. Sorry nih bukannya aku gamau, kemarin kan kita juga abis main,” tolakku tiba-tiba karna aku mengingat janjiku pagi tadi pada Ayah.
“Ahh elahhh yaudah deh aku ajak yang lain,” jawab Bimo dengan muka sedikit kecewa.
“Sorry banget Bim. Aku pulang duluan ya. Bye,” segera aku berlalu menuju ke parkiran. Kuambil kunci motor dari saku celanaku dan bergegas mengambil motorku.
“Kakaaaakkkkkkkk, adik bareng ya pulangnyaaaa,” tiba-tiba ada suara teriakan Maryam saat aku sampai di gerbang depan sekolahku. Ya, Maryam telah menungguku di depan sekolahku. Aneh-aneh saja nih anak. Padahal jarak sekolah kami sangat jauh. Baru sekali ini Maryam ke sekolahku dan menungguiku untuk pulang bersama.
“Adikkkkk ngapain sampai disini? Sama siapa?” jawabku kaget. Aku berhenti tepat di belakangnya dan kubuka helmku.
“Tadi sama temanku. Tuh rumahnya tepat di sebelah butik itu. Tadi aku nganterin dia, kasian gabawa motor kak. Yaudah aku anterin terus sekalian nunggu kakak. Aku gak berani pulang sendiri kak hehe,” jelasnya padaku sambil menunjukkan giginya yang tidak rapi itu.
“Yaudah lain kali jangan kaya gitu, kamu kalau mau nganterin tuh yang dekat aja sama sekolahmu. Jalan sampai sini kan banyak polisinya nanti kamu kena tilang ga bawa SIM loh,” kataku pada Maryam. Aku baru tersadar ternyata percakapan kami dilihat oleh banyak teman-temanku. Bisa saja mereka menganggap kami pacaran karena memang kami hanya selisih satu tahun saja. Sudah sangat banyak orang yang menganggap kami pacaran tetapi tiap ditanya kami hanya tersenyum agar mereka mengetahuinya sendiri.
“Yaudah dik, ayo kita pulang tuh dilihatin temen kakak,” segera kuajak Maryam pulang. Maryam hanya menunjukkan jempolnya tanda setuju dan segera berangkat pulang.
Aku terus membuntuti Maryam di belakang. Saat kami sampai di pertigaan masuk jalan raya tiba-tiba Maryam berteriak, “KAKKKKKAAAAAAAKKKKKKKKKKKKKK” Maryam terhimpit di samping mobil yang melaju sembarangan dan satu motor yang berada di belakang Maryam. Aku sangat kaget dan segera aku berhenti untuk menolong Maryam. Mobil itu bergegas melarikan diri tetapi aku sudah sempat mengambil gambar plat nomor polisinya di hpku. Segera kuraih Maryam. Kuangkat dia dan kubawa kepinggir jalan. Tangannya berdarah, kakinya tertimpa motornya, dan Maryam tidak sadarkan diri.
“Dikkkk, adikkk ayo bangunnnnn.. ayo cepat bangun dik. adiiikkkkkkkk,” aku terus mencoba untuk membangunkan Maryam. Tak terasa air mataku menetes dipipiku. Aku sangat kaget melihat Maryam terkulai lemah dengan terbalut darah di tangannya. Untung saja wajah dan kepalanya tak apa karena memakai helm.
“Nak, cepat telepon keluarganya. Biar segera dibawa ke rumah sakit,” kata salah seorang pengemudi motor yang menolong Maryam. Bapak itu hanya bisa mengelus dada melihatku terus mencoba untuk membangunkan Maryam dengan mataku yang nanar dan berkaca-kaca menahan tangis.
“Saya kakaknya Pak, mungkin adik saya segera dibawa ke RS dulu saja sambil saya menelepon orangtua saya,” jawabku. Segera kuraih ponselku dari saku celanaku. Ku cari nomor telepon Ayah dan segera aku meneleponnya.
“Assalamualaikum Ayah. Yah, Adik kecelakaan di pertigaan jalan raya sekolahku. Nanti aku ceritain kronologi kejadiannya. Sekarang adik dibawa ke RS Harapan ya Yah? Ayah segera hubungi Bunda, aku tunggu di RS Assalamualaikum,” kataku pada Ayah sambil kututup teleponnya. Aku tak mau mendengar suara Ayah yang pasti sangat khawatir dengan keadaan Adik.
“Nak, ayo makai mobil saya aja, saya antar sampai ke RS. Nanti motornya biar diurus sama polisi setempat. Motormu ditiipin di toko ini saja,” kata seorang Ibu yang berada di sampingku menolong Maryam. Aku hanya mengangguk pelan. Maryam diangkat oleh segerombolan orang yang menolongnya dan dimasukkan ke dalam mobil Ibu itu. Aku segera memparkirkan motorku di toko dekat dengan tempat kejadian kecelakaan Maryam. Setelah itu, aku segera masuk ke dalam mobil Ibu itu dan beranjak membawa Maryam ke RS Harapan.
Maryam dimasukkan ke dalam UGD. Ibu yang membawa Maryam tadi tetap disampingku menunggui sampai Ayah dan Bundaku sampai.
“Yah, ini Ibu yang membawa Maryam kesini,” kataku pada Ayah saat Ayah sudah sampai di UGD. Bundaku langsung menengok Maryam lewat celah kaca di pintu ruang UGD. Terlihat Bunda sangat cemas memikirkan Maryam.
“Terimakasih Bu, semoga amal Ibu dibalas oleh Allah. Amiin,” ucapan terimakasih itu keluar dari mulut Ayah sambil menyalami Ibu paruh baya itu.
“Amin. Ya Pak sama-sama. Ya sudah saya tinggal dulu ya, mari Assalamualaikum,” jawab ibu paruh baya itu.
“Waalaikumsalam. Hati-hati Bu,” jawabku bersamaan dengan Ayah. Setelah Ibu itu pergi aku segera meminta izin pada Ayah untuk mengambil motorku.
“Yah, motor kakak masih kakak titipkan di toko dekat tempat kejadian. Kakak ambil dulu ya. Eh iya tadi udah ada polisi yang ngurusin motornya adik. Kayanya dibawa ke kantor polisi. Sekalian kakak mau memastikan motor adik ada dimana dan memberikan plat nomor mobil yang tadi nabrak adik. Assalamualaikum,” pamitku pada Ayah sambil kusalami tagan Ayah.
“Waalaikumsalam hati-hati ya,” jawab Ayah dengan mata sayu. Sangat terlihat bahwa Ayah sangat sedih melihat kondisi Maryam yang lemah tak berdaya di ruang UGD.
Aku tak ingin berlama-lama pergi mengambil motor dan ke kantor polisi. Sejujurnya aku sangat khawatir oleh keadaan Maryam. Aku sangat takut jika Maryam kenapa-kenapa. Aku ingin segera kembali ke rumah sakit dan menunggui adikku. Walaupun aku tau, pasti Bunda tak mengizinkanku menunggui Maryam karna esoknya aku harus tetap sekolah. Aku menghentikan sebuah angkot yang berada di depan rumah sakit. Aku naik angkot yang belum penuh penumpangnya. Kunikmati jalannya angkot menuju sebuah toko pertigaan tempat Maryam kecelakaan.
“Pak pertigaan toko roti ya,” kataku menghentikan angkot yang melaju sedikit kencang. Sopir hanya mengangguk tanda mengerti. Segera aku turun dari angkot dan kuambil uang dua ribuan dan kubayarkan kepada sopir angkot. Aku berjalan sedikit lebih cepat sambil kuraih kunci motorku yang berada di saku celanaku.
“Pak mau ambil motor ini ya,” kuulurkuan uang seribuan untuk parkir tetapi ditolak oleh penjaga parkir itu.
“Tidak usah mas. Saya tau semua kejadian tadi. Semoga adik mas segera sadar dan tidak ada luka parah. Yang sabar ya mas,” kata seorang penjaga parkir itu.
“Ya pak, terimakasih banyak,” jawabku dengan mata yang berkaca-kaca. Aku menyalami penjaga parkir itu. Rasanya sesak dalam dada ini menahan tangis mengingat Maryam yang belum sadarkan diri.
“Semoga Allah selalu melindungi keluarga mas, terutama adik mas amiin,” katanya lagi tersenyum sambil menepuk pundakku. Aku hanya tersenyum dan cepat-cepat menaiki motorku.
Aku meninggalkan toko itu dan segera pergi ke kantor polisi untuk memastikan motor Maryam. Dijalan aku sedikit tak fokus. Aku teringat Maryam sebelum kecelakaan. Wajahnya terlihat sumringah saat dia menghampiriku di SMA. Seperti ada yang ingin ia ceritakan tetapi kecelakaan mendahuluinya. Ulahnya yang tiba-tiba aneh itu mungkin pertanda ia akan kecelakaan. Biasanya saat sore begini aku selalu bercandaan bersama Maryam. Setiap hari pasti ada waktu untukku dan Maryam bercanda. Aku sangat ingin mendampingi Maryam saat ini. Tak terasa aku hampir sampai di kantor polisi kota. Aku mengambil arah kanan dan masuk ke dalam kantor polisi itu. Kuparkirkan motorku dan masuk ke dalam kantor.
“Permisi mas, ada yang bisa saya bantu?” tiba-tiba suara salah satu polisi yang berjaga di depan pintu masuk bertanya padaku dan menghentikan langkahku.
“Oh iya Pak. Maaf sebelumnya, tadi di pertigaan toko roti sebelah SMA ada kecelakaan. Itu adik saya. Apakah motornya sudah ada disini?” tanyaku langsung pada polisi itu. Aku tak ingin berlama-lama berada di kantor polisi. Aku ingin segera pergi ke rumah sakit memastikan keadaan Maryam.
“Ya, tadi sudah dibawa kesini. Dan motornya ditahan dulu ya mas. Mau diperiksa dulu. Nanti atau besok Ayah mas atau yang mewakili suruh kesini buat menandatangani berkas-berkas,” jawab polisi itu.
“Ya. Nanti saya sampaikan. Oh iya Pak, ini tadi saya sempat memfoto plat nomor mobil yang menabrak motor adik saya. Tadi mobilnya langsung lari begitu saja tetapi saya sudah sempat mengambil gambar platnya,” jelasku pada polisi itu.
“Ini sangat membantu mas, kami akan berusaha segera menemukan mobil tersebut,” kata polisi itu sambil tersenyum padaku.
“Baik Pak. Ya sudah terimakasih Pak. Saya hanya memastikan motor adik saya dan memberikan plat nomor itu saja. Saya permisi dulu Pak,” kataku. Aku tak paham apa yang dimaksud oleh polisi tadi. Yang penting motor adikku telah aman di kantor polisi dan plat nomor telah di pegang oleh polisi.
“Ya. Hati-hati,” Jawab polisi itu dengan sedikit berteriak karena aku telah berjalan meninggalkannya. Aku tak ingin berlama-lama. Aku segera pergi ke rumah sakit tempat Maryam dirawat.
**
Sesampainya di rumah sakit aku kembali ke UGD tetapi Ayah dan Bunda sudah tak berada disana. Ada seorang suster keluar dari ruangan.
“Sus, pasien anak SMA yang tadi masuk karna kecelakaan sekarang dimana?” tanyaku langsung pada suster itu.
“Ohh itu baru saja dipindahkan ke ruang Aster sebelah sana mas,” jawab suster itu sambil menunjuk salah satu ruangan tempat pasien dirawat.
“Ya, makasih Sus,” jawabku sambil meninggalkan suster itu dan menuju ke ruang Aster sesuai petunjuk suster tadi.
Aku berjalan menyusuri lorong rumah sakit dengan perasaan sedikit lega. Maryam telah dipindahkan ke ruang rawat inap. Itu artinya Maryam tidak terlalu parah. Namun dalam hati masih ada perasaan cemas akan keadaan Maryam. Ku lirik setiap kamar yang berada di ruangan itu. Kucari barangkali ada Maryam disana. Tepat di ruangan no. 7, Ayah berdiri di depan pintu.
“Ayah, ngapain disini? Kenapa tidak masuk? Bagaimana keadaan adik Yah?” tanyaku pada Ayah yang sedari tadi hanya melamun saja.
“Adik tidak apa-apa kak. Hanya luka ringan tetapi sampai sekarang adik belum sadarkan diri. Bunda di dalam masih menunggui adik sambil menangis. Ayah tak tega berada di dalam,” jelas Ayah dengan wajah yang tertunduk lesu. Aku menengok ke arah pintu sambil sedikit mengintip keadaan di dalam. Hanya ada Bunda dan Maryam di dalam. Bunda masih memegangi tangan Maryam sambil membacakan doa dan menitikkan air mata.
“Bagaimana bisa adik sampai di dekat sekolahmu kak? Padahal jarak SMA kalian kan jauh?” tanya Ayah sambil memegangi gagang pintu pertanda aku tidak dibolehkan masuk sebelum kujawab pertanyaan Ayah.
“Tadi saat kakak mau pulang dan sampai di depan gerbang sekolah, adik berteriak pada kakak. Dia telah menunggu beberapa menit disitu. Katanya dia ingin pulang bareng sama kakak. Dia habis mengantar temannya yang rumahnya di dekat SMA kakak terus katanya adik mau mengantarkan karna kasihan melihat temannya itu pulang sendiri. Nah dia ga berani pulang sendirian Yah, terus mampir ke sekolah kakak, nungguin kakak biar pulangnya bareng sama kakak. Pas di jalan tepatnya di pertigaan jalan raya itu adik terhimpit sama mobil yang pengemudinya itu sembarangan bawa mobilnya Yah jadinya Adik kena bagian sebelah kiri padahal disampingnya ada motor juga. Waktu itu kakak mau ngejar mobil itu tapi adik udah berteriak bilang ‘KAKAKKKK’ yasudah kakak segera berhenti dan mengambil gambar plat nomor mobil itu dan segera menolong adik,” jelasku panjang lebar pada Ayah.
“Jadi adik itu mengantarkan temannya dulu? Astaghfirullah,” jawab Ayah dengan wajah sedih.
“Anehnya Yah, tadi itu adik terlihat sangat sumringah saat di SMA kakak. Adik kaya menyembunyikan sesuatu yang ingin dia ceritakan gitu. Tapi kakak segera meminta pulang takutnya nanti dicariin Ayah kan udah janji pulang cepat,” kataku pada Ayah.
“Iya nak, Ayah paham. Yaudah sekarang kalau mau masuk. Tapi jangan berisik ya,” pesan Ayah padaku sambil membukakan pintu ruangan tempat Maryam dirawat.
Aku melihat Bunda yang tak henti-hentinya mulutnya mengeluarkan doa. Aku tak tau itu doa apa. Aku langsung berdiri disamping Bunda. Kulihat Maryam masih memejamkan mata. Tak terlihat bekas luka sedikitpun diwajahnya. Maryam sangat terlihat cantik walaupun dalam keadaan sakit. Dia selalu merawat wajahnya tiap hari yang membuatnya tampak bersinar. Kulihat sisi kanannya. Ada sedikit luka di siku tangan Maryam. Beralih ke samping kiri, tangan Maryam dibalut oleh perban putih dengan sedikit warna merah ditengah-tengah perban itu. Mungkin itu adalah obat yang diberikan dokter. Kakinya hanya luka ringan sedikit. Luka yang paling parah berada pada tangan kirinya itu. Aku tak tahu kenapa tangan itu. Tiba-tibaaa
“Bundaaaa lihat, tangan Maryam sudah bergerak. Adik mulai sadar Bunda,” aku melihat tangan kanannya bergerak dan matanya membuka.
“Bundaaa adik udah sadar,” kataku lagi. Bunda segera mencium kening Maryam. Aku bergegas lari keluar ruangan mencari Ayah. Kuberi tau bahwa Maryam telah sadar dari pinsannya. Aku dan Ayah masuk ke dalam ruangan itu dan berdiri disamping tempat tidur Maryam.
“Apa yang kau rasakan nak?” tanya Ayah pada Maryam saat dia sudah tersenyum ke arah Ayah.
“Enggak Yah, tadi cuma kaget terus adik kaya tidur gitu,” jawab Maryam yang membuatku tak kuasa menahan tawa. Walaupun sakit, perkataan Maryam tetap membuatku tertawa.
“Kakak jangan gitu, adik baru saja sadar,” sahut Bunda dan aku segera diam.
“Kakak tadi tuh adik salah pilih jalan jadinya jatuh deh,” kata Maryam dengan sedikit memonyongkan bibirnya.
“Yang udah biarin berlalu dik. Dah kamu istirahat aja ya. Gak usah mikir yang macem-macem biar cepet sembuh,” jawabku sambil ku kedipkan mataku pada Maryam.
“Ahh kakak genitt wlleeeee hihihi,” kata adikku dengan menjulurkan lidahnya dan tertawa seketika. Ulah itu yang membuatku tak kuasa buat terus bersama Maryam. Terlihat bahwa dia sangat manja.
“Kakk nanti adik mau crita sesuatu kalau kakak tidur disini,” perkataan Maryam membuatku kaget. Aku tau, Maryam pasti mengerjaiku karna Maryam mengetahui kalau aku pasti tak di perbolehkan tidur di rumah sakit.
“Kakak harusss???” kata Bundaku sambil menunjuk kearahku.
“BELAJAR Bunda,” jawabku lesu.
“Anak pintar hahahahahaha,” Maryam tertawa lepas melihatku sangat lesu. Jujur kali ini tak ada rasa jengkel sedikitpun saat Maryam menggodaku. Hanya aku merasa senang sudah bisa membuat Maryam tertawa dalam keadaan sakit seperti ini. Maryam, sungguh kakak sangat menyayangimu. Tak ingin rasanya kehilanganmu. Walaupun kadang kakak merasa jengkel pada Maryam tapi kakak tetap menyayangimu.



SELESAI

Selasa, 24 November 2015

KEUNTUNGAN BELAJAR SEMALAMAN
                Di era modern banyak para pelajar yang menerapkan sistem belajar semalam atau sering disebut belajar wayangan. Belajar semalaman ini mempunyai banyak dampak untung dan dampak rugi.
            Keuntungan belajar semalaman yaitu bisa menghemat waktu. Apabila kita belajar semalaman kita bisa menghemat waktu dan waktu yang lain dapat digunakan untuk kegiatan yang lain.
Selain menghemat waktu juga bisa lebih mengingat pelajaran yang lama atau yang telah dipelajari lebih dulu. Belajar semalaman idi dapat lebih meningkatkan ingatan dalam belajar. Siswa menjadi lebih ingat tentang pelajaran yang telah dipelajarinya semalam dan tidak mudah lupa.

Keuntungan yang lain adalah menjadi lebih semangat belajar. Apabila kita belajar semalaman bisa lebih semangat belajar dalam menghadapi hari serikutnya. Kita lebih siap dalam ulangan ataupun belajar di sekolah. Belajar semalaman bisa membuat kita lebih menyiapkan materi yang akan dipelajari esok harinya di sekolah bersama guru yang mengajar.
PERAYAAN HUT SMADA
                Pada tangal 24 Oktober 2015 SMAN 2 Magelang atau Smada merayakan ulang tahun yang ke 36. Namun peringatan tersebut dilaksanakan dari tanggal 15-25 Oktober 2015. Peringatan ulang tahun ini di meriahkan dengan beberapa kegiatan. Kegiatan tersebut diikuti oleh semua warga sekolah dan oleh warga sekitar sekolah. Kegiatan tersebut berjalan dengan sukses.
            Pada tanggal 15-17 Oktober 2015 dimeriahkan dengan Lomba Mural Painting yang dialksanakan oleh semua siswa kelas 12. Para siswa melampiaskan kemampuannya menggambar di dinding samping sekolah dekat lapangan voli dan parkir mobil guru. Selain itu tanggal 18 Oktober 2015 ada lomba untuk SMP/MTS, SD/MI dalam memperingati Bulan Bahasa.
            Puncak acara terdapat pada tanggal 24 Oktober 2015. Kegiatan tersebut dimeriahkan dengan pementasan Pensi. Setiap kelas di SMAN 2 Magelang wajib mengeluarkan Pensi. Apabila tidak mengeluarkan Pensi dikenai denda Rp 300.000,00. Setiap kelas menampilkan bakatnya. Ada yang mementaskan drama musikal, band, dance, rabbana,dan lain sebagainya.
            Hari terakhir (25 Oktober 2015) perayaan HUT SMADA diramaikan dengan acara jalan santai untuk siswa SMAN 2 Magelang dan warga sekitar. Setiap kelas juga harus mengeluarkan 4 anak untuk mengikuti omba tumpengan. Jalan santai dan lomba tumpengan tersebut dilaksanakan dengan sangat meriah. Setelah jalan santai terdapat pembagian doorprize yang beraneka ragam seperti blender, notebook, printer, dan lain sebagainya. Setelah pembagian doorprize juga dimeriahkan oleh adanya beberapa band yang diundang. Salah satunya adalah Candytrip.
            Acara tersebut sangatlah berarti bagi SMAN 2 Magelang. semua warga SMA sangatlah terlihat senang dalam mengikuti acara tersebut. Banyak harapan dan doa saat melaksanakan kegiatan tersebut.

                
Kelasku
                Sekolah adalah tempat siswa menimba ilmu untuk meraih sukses di masa depan. Sekolah terdiri dari beberapa kelas. Kelas adalah suatu ruangan yang digunakan untuk belajar mengajar. Didalam satu kelas biasanya terdapat 30 siswa yang mempunyai latar belakang berbeda. Namun hal itu membuat mereka bertambah semangat untuk belajar.
            Di SMA N 2 Magelang terdapat beberapa ruang kelas. Salah satu contohnya kelas X-MIA 4. Di kelas X-MIA 4 terdapat 30 siswa yang masing masing mempunyai perbedaan satu sama lain. Contohnya perbedaan usia, pekerjaan orang tua, dan hobi. Siswa kelas X-MIA 4 beragama Islam semua.
            Perbedaan usia tidak menjadikan rasa berkecil hati. Para siswa tetap belajar dengan sungguh-sungguh dalam mendapatkan prestasi. Di kelas X-MIA 4 rata-rata berusia 14-16 tahun. Namun mayoritas berumur 15 tahun. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat dalam tabel dibawah ini.
No.
Nama
Umur


14
15
16
  1.  
Agustina


V
  1.  
Ahmad

V

  1.  
Alya

V

  1.  
Annisya

V

  1. 2
Atharida

V

  1.  
Aulia

V

  1.  
Ayu

V

  1.  
Bagus

V

  1.  
Desti
V


  1.  
Devi


V
  1.  
Dwi

V

  1.  
Eka
V


  1.  
Feby

V

  1.  
Hermawan

V

  1.  
Khusnul

V

  1.  
Lestari
V


  1.  
Masfufah

V

  1.  
Mirza

V

  1.  
M. Akbarodin

V

  1.  
M. Misbakhul

V

  1.  
Nafla

V

  1.  
Novia

V

  1.  
Nurul

V

  1.  
Salma

V

  1.  
Sekar


V
  1.  
Shinta

V

  1.  
Syaebatul

V

  1.  
Wahyu


V
  1.  
Wildan

V

  1.  
Zahrotul

V


Perbedaan yang lain terdapat di pekerjaan orangtuanya. Pekerjaan orangtua tidak menjadikan kendala bagi siswa untuk tetap belajar mencari ilmu. Siswa tetap gigih dalam belajar. Pekerjaan orangtua malah mebuat siswa semangat dalam belajar. Di kelas X-MIA 4 beraneka ragam pekerjaan orangtua siswa masing-masing. Seperti PNS, TNI/POLRI, wiraswasta, dan swasa. Mayoritas pekerjaan orangtua siswa kela X-MIA 4 adalah wiraswasta. Lebih lengkapnya dapat dilihat dalam tabel dibawah ini.

No.
Nama

Pekerjaan
Orang
Tua



PNS
TNI/POLRI
Wiraswasta
Swasta
Tani
  1.  
Agustina


V


  1.  
Ahmad


V


  1.  
Alya


V


  1.  
Annisya
V




  1.  
Atharida


V


  1.  
Aulia


V


  1.  
Ayu
V




  1.  
Bagus


V


  1.  
Desti




V
  1.  
Devi


V


  1.  
Dwi


V


  1.  
Eka


V


  1.  
Feby

V



  1.  
Hermawan



V

  1.  
Khusnul



V

  1.  
Lestari




V
  1.  
Masfufah




V
  1.  
Mirza
V




  1.  
M. Akbarodin



V

  1.  
M. Misbakhul



V

  1.  
Nafla


V


  1.  
Novia


V


  1.  
Nurul




V
  1.  
Salma


V


  1.  
Sekar



V

  1.  
Shinta
V




  1.  
Syaebatul


V


  1.  
Wahyu



V

  1.  
Wildan


V


  1.  
Zahrotul


V



Selain usia dan pekerjaan orangtua, perbedaan yang lain terdapat dalam hobi. Masing-masing siswa kelas X-MIA 4 mempunyai hobi yang berbeda-beda. Seperti olahraga, seni, baca, dan tulis. Mayoritas hobi siswa adalah seni. Banyak siswa yang menyukai seni. Untuk lebih lengkapnya bisa melihat tabel dibawah ini.
No.
Nama

Hobi



Olah Raga
Seni
Baca Tulis
1.        
Agustina


V
2.        
Ahmad
V


3.        
Alya

V

4.        
Annisya

V

5.        
Atharida

V

6.        
Aulia

V

7.        
Ayu


V
8.        
Bagus
V


9.        
Desti



V
10.    
Devi

V

11.    
Dwi

V

12.    
Eka

V

13.    
Feby
V


14.    
Hermawan

V

15.    
Khusnul

V

16.    
Lestari

V

17.    
Masfufah


V
18.    
Mirza


V
19.    
M. Akbarodin


V
20.    
M. Misbakhul

V

21.    
Nafla

V

22.    
Novia


V
23.    
Nurul

V

24.    
Salma

V

25.    
Sekar


V
26.    
Shinta

V

27.    
Syaebatul

V

28.    
Wahyu

V

29.    
Wildan
V


30.    
Zahrotul

V

               

                Dari beberapa perbedaan tersebut masih bnyak lagi perbedaan lain. Akan tetap itu tidak membuat siswa kelas X-MIA 4 menjadi berkecil hati. Merekatetap saling membantu dan mengerti satu sama lain. Siswa kelas X-MIA 4 tetap menjadi siswa yang kompak.