Maryamku Sayang
(Ayu
Nabiha Septiyani/ X-MIPA 4/07)
“Kak
ayo banguunnnnnnnnnn,” lagi-lagi adikku membangunkanku dengan suara
cemprengnya. Seperti biasa aku memang paling malas untuk bangun tidur.
“Kakak
udah jam lima. Ayo bangun. Kakak kan belum salat Subuh, nanti dimarahi Bunda
kakkkkk,” suara cemprengnya kembali mengagetkanku. Aku segera bangun dari
tidurku dan mengambil air wudhu. Segera kutunaikan salat sebelum aku dimarahi
oleh Bunda.
Kembali
kurebahkan badanku ke kasur dengan selimut tebalku. Hari ini tak seperti
biasanya. Udara sangat dingin. Membuat aku malas untuk beranjak dari tempat
tidurku.
“Kakkkkkkk
ayo mandiiiiii. Kalau enggak adik duluan nih mandinya?” teriak si cepreng
membuat kupingku sakit.
“Adik
dulu aja deh. Kakak masih malas bangun,” jawabku sambil kututup kupingku
mengantisipasi teriakan cempreng itu lagi.
“Dasar
pemalas! Bundaaa kakak malas-malasan nih,” kembali adikku mengadu kepada Bunda.
Kubiarkan saja aduannya. Tak kujawab sepatah katapun.
Aku
memang mempunyai seorang adik bernama Maryam. Dia adalah satu-satunya adik yang
kupunya. Kami hanya dua bersaudara. Aku sangat menyayangi Maryam, tetapi
ulahnya terkadang membuatku kesal. Maryam memang sudah beranjak dewasa. Baru
saja Maryam masuk ke salah satu SMA favorit di kotaku. Kami hanya selisih usia
satu tahun, tetapi ulahnya masih seperti anak berumur dua tahun sedang meminta susu. Maryam sangat manja terutama
padaku. Ulah manjanya itulah yang membuatku sangat menyayanginya. Rengekan
Maryam tiap saat yang membuatku rindu saat aku jauh darinya. Aku memang tak
pernah bisa menampakkan rasa sayangku pada Maryam. Aku hanya selalu mencoba untuk
menjaganya.
“Kakakkkkkkkkk
Maryam udah selesai mandi. Aduhhhh kakak mah kebiasaannnn. Tuh kan tidur. Kakakkkkkkk
cepat mandi nanti telat sekolahnyaaa,” kembali Maryam membangunkanku. Rasanya
aku baru saja memakai selimut tetapi ternyata aku ketiduran.
“Iyaaa.
Ini juga mau mandi. Kakak kan kalau mandi cepat ga kaya kamu sampai 5 jam aja
betah,” kini kubalas ocehannya dengan sedikit candaan yang biasa kami lakukan
tiap hari.
“Ihhhh
kakak mah gatau kalau perempuan tuh emang kaya gitu. Sukanya ngejek mulu,”
teriak Maryam dari kamarnya. Aku tahu saat ini pasti dia sedang manyun 5 cm
karna ejekanku. Segera kulanjutkan mandi, sarapan, dan bergegas sekolah. Maryam
telah berangkat lebih dulu dariku. Dia memang belum mempunyai SIM (Surat Izin
Mengemudi) jika berangkat terlalu siang, takutnya terkena tilang oleh polisi
yang biasanya berkeliaran di jalan raya.
“Bunda
kakak berangkat dulu ya. Assalamualaikum,” kujabat dan kucium punggung tangan
Bunda. Hal itu memang sudah menjadi kebiasaan bagi aku dan adikku setiap
berangkat sekolah.
“Ya
nak. Waalaikumsalam. Hati-hati dijalan. Jangan kebut-kebutan ya. Belajar yang
serius udah mau jadi anak kelas 12 lho,” pesan Bunda sambil mencium keningku.
Ya setiap pagi saat aku akan berangkat sekolah selalu ada kecupan dan pesan
dari Bunda. Hal itu membuat aku selalu semangat pergi ke sekolah. Tak ada
alasan lain jika aku sedang malas sekolah selain kecupan dan pesan dari Bunda
yang membuatku semangat pergi ke sekolah.
“Iya
Bundaa. Insyaallah. Bunda nanti juga hati-hati ya,” jawabku dan segera
meninggalkan Bunda di dapur dan segera menuju garasi mengambil helmku.
“Yah,
kakak berangkat dulu ya Assalamualaikum,” kujabat dan kucium punggung tangan
Ayah yang sudah menungguku di garasi. Setiap pagi memang Ayahku selalu
mengeluarkan motor dari garasi dan mengecek setiap motor yang aku, Bunda, Ayah,
dan Maryam pakai.
“Ya
kak Waalaikumsalam. Hati-hati ya. Eh iya nanti cepat pulang ya kak, gausah main
dulu,” kata Ayahku sambil melambaikan tangannya.
“Siap
komandan,” segera aku berlalu dan menuju sekolahku. Tepat pukul tujuh kurang
sepuluh menit aku sampai di sekolahku. Segera aku menuju kelas dan bergegas
menyiapkan buku dan tugas rumah pelajaran pertama ini.
**
Bel
pulang sekolah berdering. Segera ku masukkan semua buku-bukuku ke dalam tas dan
beranjak untuk berdoa.
“Ehh
Qido, kita main dulu yuk. Bentarrrrr aja. Aku mau nunjukin view yang bagus buat
foto. Biar keliatan hits gitu,” ajak Bimo salah satu teman kelasku.
“Duhhh
sorry nihhh, lain waktu aja yaaa. Aku udah janji sama Ayah mau pulang cepat.
Sorry nih bukannya aku gamau, kemarin kan kita juga abis main,” tolakku
tiba-tiba karna aku mengingat janjiku pagi tadi pada Ayah.
“Ahh
elahhh yaudah deh aku ajak yang lain,” jawab Bimo dengan muka sedikit kecewa.
“Sorry
banget Bim. Aku pulang duluan ya. Bye,” segera aku berlalu menuju ke parkiran.
Kuambil kunci motor dari saku celanaku dan bergegas mengambil motorku.
“Kakaaaakkkkkkkk,
adik bareng ya pulangnyaaaa,” tiba-tiba ada suara teriakan Maryam saat aku
sampai di gerbang depan sekolahku. Ya, Maryam telah menungguku di depan
sekolahku. Aneh-aneh saja nih anak. Padahal jarak sekolah kami sangat jauh.
Baru sekali ini Maryam ke sekolahku dan menungguiku untuk pulang bersama.
“Adikkkkk
ngapain sampai disini? Sama siapa?” jawabku kaget. Aku berhenti tepat di
belakangnya dan kubuka helmku.
“Tadi
sama temanku. Tuh rumahnya tepat di sebelah butik itu. Tadi aku nganterin dia,
kasian gabawa motor kak. Yaudah aku anterin terus sekalian nunggu kakak. Aku
gak berani pulang sendiri kak hehe,” jelasnya padaku sambil menunjukkan giginya
yang tidak rapi itu.
“Yaudah
lain kali jangan kaya gitu, kamu kalau mau nganterin tuh yang dekat aja sama
sekolahmu. Jalan sampai sini kan banyak polisinya nanti kamu kena tilang ga
bawa SIM loh,” kataku pada Maryam. Aku baru tersadar ternyata percakapan kami
dilihat oleh banyak teman-temanku. Bisa saja mereka menganggap kami pacaran karena
memang kami hanya selisih satu tahun saja. Sudah sangat banyak orang yang
menganggap kami pacaran tetapi tiap ditanya kami hanya tersenyum agar mereka
mengetahuinya sendiri.
“Yaudah
dik, ayo kita pulang tuh dilihatin temen kakak,” segera kuajak Maryam pulang.
Maryam hanya menunjukkan jempolnya tanda setuju dan segera berangkat pulang.
Aku
terus membuntuti Maryam di belakang. Saat kami sampai di pertigaan masuk jalan
raya tiba-tiba Maryam berteriak, “KAKKKKKAAAAAAAKKKKKKKKKKKKKK” Maryam
terhimpit di samping mobil yang melaju sembarangan dan satu motor yang berada
di belakang Maryam. Aku sangat kaget dan segera aku berhenti untuk menolong
Maryam. Mobil itu bergegas melarikan diri tetapi aku sudah sempat mengambil
gambar plat nomor polisinya di hpku. Segera kuraih Maryam. Kuangkat dia dan
kubawa kepinggir jalan. Tangannya berdarah, kakinya tertimpa motornya, dan
Maryam tidak sadarkan diri.
“Dikkkk,
adikkk ayo bangunnnnn.. ayo cepat bangun dik. adiiikkkkkkkk,” aku terus mencoba
untuk membangunkan Maryam. Tak terasa air mataku menetes dipipiku. Aku sangat
kaget melihat Maryam terkulai lemah dengan terbalut darah di tangannya. Untung
saja wajah dan kepalanya tak apa karena memakai helm.
“Nak,
cepat telepon keluarganya. Biar segera dibawa ke rumah sakit,” kata salah
seorang pengemudi motor yang menolong Maryam. Bapak itu hanya bisa mengelus
dada melihatku terus mencoba untuk membangunkan Maryam dengan mataku yang nanar
dan berkaca-kaca menahan tangis.
“Saya
kakaknya Pak, mungkin adik saya segera dibawa ke RS dulu saja sambil saya
menelepon orangtua saya,” jawabku. Segera kuraih ponselku dari saku celanaku.
Ku cari nomor telepon Ayah dan segera aku meneleponnya.
“Assalamualaikum
Ayah. Yah, Adik kecelakaan di pertigaan jalan raya sekolahku. Nanti aku
ceritain kronologi kejadiannya. Sekarang adik dibawa ke RS Harapan ya Yah? Ayah
segera hubungi Bunda, aku tunggu di RS Assalamualaikum,” kataku pada Ayah
sambil kututup teleponnya. Aku tak mau mendengar suara Ayah yang pasti sangat
khawatir dengan keadaan Adik.
“Nak,
ayo makai mobil saya aja, saya antar sampai ke RS. Nanti motornya biar diurus
sama polisi setempat. Motormu ditiipin di toko ini saja,” kata seorang Ibu yang
berada di sampingku menolong Maryam. Aku hanya mengangguk pelan. Maryam
diangkat oleh segerombolan orang yang menolongnya dan dimasukkan ke dalam mobil
Ibu itu. Aku segera memparkirkan motorku di toko dekat dengan tempat kejadian
kecelakaan Maryam. Setelah itu, aku segera masuk ke dalam mobil Ibu itu dan
beranjak membawa Maryam ke RS Harapan.
Maryam
dimasukkan ke dalam UGD. Ibu yang membawa Maryam tadi tetap disampingku
menunggui sampai Ayah dan Bundaku sampai.
“Yah,
ini Ibu yang membawa Maryam kesini,” kataku pada Ayah saat Ayah sudah sampai di
UGD. Bundaku langsung menengok Maryam lewat celah kaca di pintu ruang UGD.
Terlihat Bunda sangat cemas memikirkan Maryam.
“Terimakasih
Bu, semoga amal Ibu dibalas oleh Allah. Amiin,” ucapan terimakasih itu keluar
dari mulut Ayah sambil menyalami Ibu paruh baya itu.
“Amin.
Ya Pak sama-sama. Ya sudah saya tinggal dulu ya, mari Assalamualaikum,” jawab
ibu paruh baya itu.
“Waalaikumsalam.
Hati-hati Bu,” jawabku bersamaan dengan Ayah. Setelah Ibu itu pergi aku segera
meminta izin pada Ayah untuk mengambil motorku.
“Yah,
motor kakak masih kakak titipkan di toko dekat tempat kejadian. Kakak ambil
dulu ya. Eh iya tadi udah ada polisi yang ngurusin motornya adik. Kayanya
dibawa ke kantor polisi. Sekalian kakak mau memastikan motor adik ada dimana
dan memberikan plat nomor mobil yang tadi nabrak adik. Assalamualaikum,” pamitku
pada Ayah sambil kusalami tagan Ayah.
“Waalaikumsalam
hati-hati ya,” jawab Ayah dengan mata sayu. Sangat terlihat bahwa Ayah sangat
sedih melihat kondisi Maryam yang lemah tak berdaya di ruang UGD.
Aku
tak ingin berlama-lama pergi mengambil motor dan ke kantor polisi. Sejujurnya
aku sangat khawatir oleh keadaan Maryam. Aku sangat takut jika Maryam
kenapa-kenapa. Aku ingin segera kembali ke rumah sakit dan menunggui adikku.
Walaupun aku tau, pasti Bunda tak mengizinkanku menunggui Maryam karna esoknya
aku harus tetap sekolah. Aku menghentikan sebuah angkot yang berada di depan
rumah sakit. Aku naik angkot yang belum penuh penumpangnya. Kunikmati jalannya
angkot menuju sebuah toko pertigaan tempat Maryam kecelakaan.
“Pak
pertigaan toko roti ya,” kataku menghentikan angkot yang melaju sedikit
kencang. Sopir hanya mengangguk tanda mengerti. Segera aku turun dari angkot
dan kuambil uang dua ribuan dan kubayarkan kepada sopir angkot. Aku berjalan
sedikit lebih cepat sambil kuraih kunci motorku yang berada di saku celanaku.
“Pak
mau ambil motor ini ya,” kuulurkuan uang seribuan untuk parkir tetapi ditolak
oleh penjaga parkir itu.
“Tidak
usah mas. Saya tau semua kejadian tadi. Semoga adik mas segera sadar dan tidak
ada luka parah. Yang sabar ya mas,” kata seorang penjaga parkir itu.
“Ya
pak, terimakasih banyak,” jawabku dengan mata yang berkaca-kaca. Aku menyalami
penjaga parkir itu. Rasanya sesak dalam dada ini menahan tangis mengingat
Maryam yang belum sadarkan diri.
“Semoga
Allah selalu melindungi keluarga mas, terutama adik mas amiin,” katanya lagi
tersenyum sambil menepuk pundakku. Aku hanya tersenyum dan cepat-cepat menaiki
motorku.
Aku
meninggalkan toko itu dan segera pergi ke kantor polisi untuk memastikan motor
Maryam. Dijalan aku sedikit tak fokus. Aku teringat Maryam sebelum kecelakaan.
Wajahnya terlihat sumringah saat dia menghampiriku di SMA. Seperti ada yang
ingin ia ceritakan tetapi kecelakaan mendahuluinya. Ulahnya yang tiba-tiba aneh
itu mungkin pertanda ia akan kecelakaan. Biasanya saat sore begini aku selalu
bercandaan bersama Maryam. Setiap hari pasti ada waktu untukku dan Maryam
bercanda. Aku sangat ingin mendampingi Maryam saat ini. Tak terasa aku hampir
sampai di kantor polisi kota. Aku mengambil arah kanan dan masuk ke dalam
kantor polisi itu. Kuparkirkan motorku dan masuk ke dalam kantor.
“Permisi
mas, ada yang bisa saya bantu?” tiba-tiba suara salah satu polisi yang berjaga
di depan pintu masuk bertanya padaku dan menghentikan langkahku.
“Oh
iya Pak. Maaf sebelumnya, tadi di pertigaan toko roti sebelah SMA ada
kecelakaan. Itu adik saya. Apakah motornya sudah ada disini?” tanyaku langsung
pada polisi itu. Aku tak ingin berlama-lama berada di kantor polisi. Aku ingin
segera pergi ke rumah sakit memastikan keadaan Maryam.
“Ya,
tadi sudah dibawa kesini. Dan motornya ditahan dulu ya mas. Mau diperiksa dulu.
Nanti atau besok Ayah mas atau yang mewakili suruh kesini buat menandatangani
berkas-berkas,” jawab polisi itu.
“Ya.
Nanti saya sampaikan. Oh iya Pak, ini tadi saya sempat memfoto plat nomor mobil
yang menabrak motor adik saya. Tadi mobilnya langsung lari begitu saja tetapi
saya sudah sempat mengambil gambar platnya,” jelasku pada polisi itu.
“Ini
sangat membantu mas, kami akan berusaha segera menemukan mobil tersebut,” kata
polisi itu sambil tersenyum padaku.
“Baik
Pak. Ya sudah terimakasih Pak. Saya hanya memastikan motor adik saya dan
memberikan plat nomor itu saja. Saya permisi dulu Pak,” kataku. Aku tak paham
apa yang dimaksud oleh polisi tadi. Yang penting motor adikku telah aman di
kantor polisi dan plat nomor telah di pegang oleh polisi.
“Ya.
Hati-hati,” Jawab polisi itu dengan sedikit berteriak karena aku telah berjalan
meninggalkannya. Aku tak ingin berlama-lama. Aku segera pergi ke rumah sakit
tempat Maryam dirawat.
**
Sesampainya
di rumah sakit aku kembali ke UGD tetapi Ayah dan Bunda sudah tak berada
disana. Ada seorang suster keluar dari ruangan.
“Sus,
pasien anak SMA yang tadi masuk karna kecelakaan sekarang dimana?” tanyaku
langsung pada suster itu.
“Ohh
itu baru saja dipindahkan ke ruang Aster sebelah sana mas,” jawab suster itu
sambil menunjuk salah satu ruangan tempat pasien dirawat.
“Ya,
makasih Sus,” jawabku sambil meninggalkan suster itu dan menuju ke ruang Aster
sesuai petunjuk suster tadi.
Aku
berjalan menyusuri lorong rumah sakit dengan perasaan sedikit lega. Maryam
telah dipindahkan ke ruang rawat inap. Itu artinya Maryam tidak terlalu parah.
Namun dalam hati masih ada perasaan cemas akan keadaan Maryam. Ku lirik setiap
kamar yang berada di ruangan itu. Kucari barangkali ada Maryam disana. Tepat di
ruangan no. 7, Ayah berdiri di depan pintu.
“Ayah,
ngapain disini? Kenapa tidak masuk? Bagaimana keadaan adik Yah?” tanyaku pada
Ayah yang sedari tadi hanya melamun saja.
“Adik
tidak apa-apa kak. Hanya luka ringan tetapi sampai sekarang adik belum sadarkan
diri. Bunda di dalam masih menunggui adik sambil menangis. Ayah tak tega berada
di dalam,” jelas Ayah dengan wajah yang tertunduk lesu. Aku menengok ke arah
pintu sambil sedikit mengintip keadaan di dalam. Hanya ada Bunda dan Maryam di
dalam. Bunda masih memegangi tangan Maryam sambil membacakan doa dan menitikkan
air mata.
“Bagaimana
bisa adik sampai di dekat sekolahmu kak? Padahal jarak SMA kalian kan jauh?”
tanya Ayah sambil memegangi gagang pintu pertanda aku tidak dibolehkan masuk
sebelum kujawab pertanyaan Ayah.
“Tadi
saat kakak mau pulang dan sampai di depan gerbang sekolah, adik berteriak pada
kakak. Dia telah menunggu beberapa menit disitu. Katanya dia ingin pulang
bareng sama kakak. Dia habis mengantar temannya yang rumahnya di dekat SMA
kakak terus katanya adik mau mengantarkan karna kasihan melihat temannya itu
pulang sendiri. Nah dia ga berani pulang sendirian Yah, terus mampir ke sekolah
kakak, nungguin kakak biar pulangnya bareng sama kakak. Pas di jalan tepatnya
di pertigaan jalan raya itu adik terhimpit sama mobil yang pengemudinya itu
sembarangan bawa mobilnya Yah jadinya Adik kena bagian sebelah kiri padahal
disampingnya ada motor juga. Waktu itu kakak mau ngejar mobil itu tapi adik
udah berteriak bilang ‘KAKAKKKK’ yasudah kakak segera berhenti dan mengambil
gambar plat nomor mobil itu dan segera menolong adik,” jelasku panjang lebar
pada Ayah.
“Jadi
adik itu mengantarkan temannya dulu? Astaghfirullah,” jawab Ayah dengan wajah
sedih.
“Anehnya
Yah, tadi itu adik terlihat sangat sumringah saat di SMA kakak. Adik kaya
menyembunyikan sesuatu yang ingin dia ceritakan gitu. Tapi kakak segera meminta
pulang takutnya nanti dicariin Ayah kan udah janji pulang cepat,” kataku pada
Ayah.
“Iya
nak, Ayah paham. Yaudah sekarang kalau mau masuk. Tapi jangan berisik ya,”
pesan Ayah padaku sambil membukakan pintu ruangan tempat Maryam dirawat.
Aku
melihat Bunda yang tak henti-hentinya mulutnya mengeluarkan doa. Aku tak tau
itu doa apa. Aku langsung berdiri disamping Bunda. Kulihat Maryam masih
memejamkan mata. Tak terlihat bekas luka sedikitpun diwajahnya. Maryam sangat
terlihat cantik walaupun dalam keadaan sakit. Dia selalu merawat wajahnya tiap
hari yang membuatnya tampak bersinar. Kulihat sisi kanannya. Ada sedikit luka
di siku tangan Maryam. Beralih ke samping kiri, tangan Maryam dibalut oleh
perban putih dengan sedikit warna merah ditengah-tengah perban itu. Mungkin itu
adalah obat yang diberikan dokter. Kakinya hanya luka ringan sedikit. Luka yang
paling parah berada pada tangan kirinya itu. Aku tak tahu kenapa tangan itu.
Tiba-tibaaa
“Bundaaaa
lihat, tangan Maryam sudah bergerak. Adik mulai sadar Bunda,” aku melihat tangan
kanannya bergerak dan matanya membuka.
“Bundaaa
adik udah sadar,” kataku lagi. Bunda segera mencium kening Maryam. Aku bergegas
lari keluar ruangan mencari Ayah. Kuberi tau bahwa Maryam telah sadar dari
pinsannya. Aku dan Ayah masuk ke dalam ruangan itu dan berdiri disamping tempat
tidur Maryam.
“Apa
yang kau rasakan nak?” tanya Ayah pada Maryam saat dia sudah tersenyum ke arah
Ayah.
“Enggak
Yah, tadi cuma kaget terus adik kaya tidur gitu,” jawab Maryam yang membuatku
tak kuasa menahan tawa. Walaupun sakit, perkataan Maryam tetap membuatku
tertawa.
“Kakak
jangan gitu, adik baru saja sadar,” sahut Bunda dan aku segera diam.
“Kakak
tadi tuh adik salah pilih jalan jadinya jatuh deh,” kata Maryam dengan sedikit
memonyongkan bibirnya.
“Yang
udah biarin berlalu dik. Dah kamu istirahat aja ya. Gak usah mikir yang
macem-macem biar cepet sembuh,” jawabku sambil ku kedipkan mataku pada Maryam.
“Ahh
kakak genitt wlleeeee hihihi,” kata adikku dengan menjulurkan lidahnya dan
tertawa seketika. Ulah itu yang membuatku tak kuasa buat terus bersama Maryam.
Terlihat bahwa dia sangat manja.
“Kakk
nanti adik mau crita sesuatu kalau kakak tidur disini,” perkataan Maryam
membuatku kaget. Aku tau, Maryam pasti mengerjaiku karna Maryam mengetahui
kalau aku pasti tak di perbolehkan tidur di rumah sakit.
“Kakak
harusss???” kata Bundaku sambil menunjuk kearahku.
“BELAJAR
Bunda,” jawabku lesu.
“Anak
pintar hahahahahaha,” Maryam tertawa lepas melihatku sangat lesu. Jujur kali
ini tak ada rasa jengkel sedikitpun saat Maryam menggodaku. Hanya aku merasa
senang sudah bisa membuat Maryam tertawa dalam keadaan sakit seperti ini.
Maryam, sungguh kakak sangat menyayangimu. Tak ingin rasanya kehilanganmu.
Walaupun kadang kakak merasa jengkel pada Maryam tapi kakak tetap menyayangimu.
SELESAI