TIKUS
(Ayu Nabiha S /X MIA 4 /07)
Suatu hari Jono
dan teman-teman berjalan-jalan keliling Jakarta. Mereka melihat gedung-gedung
yang tinggi. Mereka meminta paman Jono untuk membantu menyopir mobil. Di
sepanjang perjalanan menuju Monas, Jono dan teman-temannya fokus melihat jalan dan
gedung di sekitar. Namun tiba-tiba Jimi salah satu teman Jono berkata, “Itu
gedung tinggi banget sih, apa iya oramg yamg membuat gedung itu nggak capek dan
pegal tangannya?”
“Lho
kok pegel Jim?” kata paman sambil menengok ke belakang.
“Itu
kan buat gedungnya tinggi, dan pastinya butuh waktu yang lama buat membangun
gedung tersebut. Apa tangan para pekerja itu nggak pegal buat merayap ke atas
buat memasang paku?” jawab Jimi menjelaskan.
“Hahaha…
kamu aneh Jim, sekarang kan jamannya udah modern, jadinya udah banyak alat
canggih,” sahut Jono mentertawai perkataan Jimi.
“Ente-ente
ini ngomong apa?” Tanya Juna dengan menggunakan logat Arabnya.
“Ente
ini diam aja Bule Arab!” bentak Jimi kepada Juna. “Maka dari itu Jon, apa para
tikus nggak capek buat ngitung uang?” lanjut Jimi.
Pamanpun
angkat bicara, karena bingung dengan perkataan Jimi, “Lho ini kenapa sampai
ngitung uang?” tanyanya.
“Makanya
didengerin dulu Paman! Saya kan belum selesai bicaranya,” kata Jimi. “Apa
mereka nggak capek ngitung uang tiap hari? Mereka kan sering mengambil uang
rakyat buat kepentingan tikus itu sendiri,” lanjut Jimi serius.
“Hahaha..
iya juga Jim. Tikus tak berdosa itu kan sering ngambil tanah rakyat,” jawab
Paman sambil tersenyum sinis.
Tiba-tiba
Jimi melihat salah satu gedung yang bertuliskan ‘DPR’ dan berkata, “Itu lho
Jon, gedung para tikus-tikus rakyat bersarang,” kata Jimi sambil menunjuk
gedung tersebut.
“Mereka
itu tikus-tikus jahat yang butuh makan seharusnya kan perlu dibasmi,” terang
Paman.
“Jangan
terlalu berlebih. Para tikus itu juga manusia. Mereka juga pasti berjuang untuk
mencari makan,” jawab Jono.
Seketika
suasana di dalam mobil menjadi hening. Mereka pun melanjutkan perjalanan menuju
Monas.
OK, siiiippp!
BalasHapusTerimakasih Pak
Hapus